Oleh Silvani Saat kau goreskan luka dan kecewa Saat kau beri aku bahagia Dulu, ketika saya memutuskan untuk menikah, yang terbayang di benak saya adalah semua yang indah-indah. Betapa tidak, seumur hidup akan saya habiskan bersama orang yang saya cintai. Berbunga-bungalah hati ini saat sang pujaan hati datang pada ayah bunda, bermaksud melamar, menjadikan saya sebagai istrinya. Dan hari pernikahan itupun tiba, sungguh hari terindah… Bagaikan kisah dongeng “Cinderella”, hari itu sayalah si gadis jelita yang dinikahi sang pangeran tampan, akan diboyong menuju istananya and they lived happily ever after… begitulah akhir kisah dongeng "Cinderella". Bagaimana dengansaya? Setelah resmi menjadi pasangan suami istri, setelah melewati hari-hari bersamanya, ohh ternyata… tersadarlah saya, kalau saya dan suami sangat jauh berbeda. Perbedaan itu bagaikan bumi dengan langit! Saya yang suka becerita, suami yang tidak suka mendengar cerita … Saya yang suka bertemu orang banyak, suami yang tidak suka keramaian… Saya yang sensitif, suami yang bicara ceplas-ceplos… Hari demi hari berlalu, tahunpun berganti. Telah hampir sepuluh tahun kami kayuh biduk rumah tangga ini. Biduk rumah tangga yang penuh nuansa. Suka, tawa, bahagia, duka, dan lara ada di sana. Batin ini kemudian bertanya… Setelah sepuluh tahun berlalu, masih adakah cinta tersisa? Kemana gerangan perginya getaran cinta itu? Yaa Allah… saya tak mau cinta itu hilang, jangan sampai cinta menjadi redup dan kemudian mati. Saya harus menghidupkan kembali cinta diantara kami… Saya sadar, manusia tidak ada yang sempurna, begitu juga saya dengan segala ketidaksempurnaan saya. Sia-sia mencari pasangan yang sempurna, karena tak kan pernah ada, karena hanya Allahlah yang Maha Sempurna. Setiap manusiapun unik dengan karakter yang dimilikinya. Ini membuktikan bahwa Allah Maha Kaya. Allah yang sanggup memberikan karakter yang berbeda-beda pada setiap hamba-Nya. Subhanallah… Perbedaan yang ada bukanlah menjadi jarak yang memisahkan kami, melainkan untuk saling melengkapi. Seperti saling melengkapinya bumi dan langit. Saya menikmati hidup berumah tangga dengan segala nuansanya. Berumah tangga adalah perjuangan. Saya harus pandai mengelola hati, saat hati ini luka dan kecewa, saya maafkan suami. Karena saya melihat kesungguhannya memperbaiki kesalahannya. Karena luka bagaikan beban berat di punggung kita. Maukah saya berjalan dengan terus membawa beban berat di punggung? Dan tentang cinta… Cinta dalam rumah tangga ternyata lebih luas, bukanlah cinta sesaat yang menggetarkan… jauh lebih indah, lebih dewasa, berwujud rasa kasih sayang kepada pasangan kita. Dan kutemukan kembali cinta itu, tak pernah hilang, semakin berkilauan… Saat saya menatapnya, tertidur dalam lelahnya… Dialah lelaki yang telah bekerja keras untuk saya, rela bekerja siang malam, berpeluh keringat…Seumur hidupnya dihabiskan untuk bekerja. Semua itu untuk saya! Menafkahi saya, menafkahi kedua anak kami. Satu tujuannya, membahagiakan kami. Dia teristimewa dipilihkan Allah untuk saya… Yaa Allah... segala puji dan syukur kupanjatkan kepada Engkau… Duhai suamiku… Engkaulah Langit bagiku. Engkau senantiasa menaungiku, memberi kehangatan sang mentari, melindungi dengan awan putih nan lembut, mencurahkan air sejuk di kala dahaga, melukiskan semburat warna pelangi… Saat mentari tenggelam, kau beri aku rembulan dan taburan bintang, hanya untukku… Duhai Suamiku… berpijaklah engkau kepadaku sebagai Bumimu, kan kuberi Engkau cinta, cinta yang tak mengenal lelah, untuk selamanya. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S Ar Rum: 2) Wallahu’alam bishshowaab. Bangkok, 28 Februari 2011.
biarlah
kutulis pada hamparan pasir
dan
luka dan kecewa itu sirna
ditelan ombak kecintaanku pada-Nya
izinkanlah
kuukir pada batu karang
dan bila
ombak kehidupan garang menerjang
karang itu
tetap kokoh
dalam naungan cinta-Nya
posted by ,
posted by ,
Oleh Eko Prasetyo
Setiap bulan, saya selalu mengontrol pengeluaran rumah tangga. Misalnya, mempersiapkan uang untuk bayar cicilan rumah, listrik, belanja istri, tabungan, dan infak. Itu saya lakukan agar tidak besar pasak daripada tiang alias lebih besar pengeluaran ketimbang pemasukan. Dengan penghasilan kami yang pas-pasan, saya selalu mengingatkan istri untuk ketat dalam hal finansial keluarga.
Suatu sore, ibu dan bapak berkunjung ke kediaman saya. Tentu saja kami sangat senang dengan kedatangan beliau. Kami jamu mereka sebaik-baiknya saat dua hari bermalam di tempat kami.
Menjelang pulang, ibu memanggil saya. Suaranya terdengar berbisik.
”Opo, Bu (Ada apa, Bu)?” tanya saya.
”Maaf ya, ibu minta uang buat sangu, ada? Sak onok e (Seadanya kamu),” ucapnya lirih.
Saya menatap mata ibu.
”Sik (sebentar),” jawab saya, langsung berlalu ke kamar.
Saat itu istri saya sedang keluar untuk membeli makanan buat ibu dan bapak. Saya mengambil tas kecil hitam yang tergantung dekat cermin kecil. Mengambil amplop putih. Di situ terdapat jatah uang cicilan rumah, listrik, dan infak. Saya mengambil jatah untuk infak. Semuanya.
Saya lantas menemui ibu dan memberikan uang tersebut.
Saya kembali menatap matanya. Berbinar.
Setelah istri saya kembali, kami makan bersama. Setelah itu, saya mengantarkan ibu dan bapak ke Stasiun Gubeng, Surabaya, untuk kembali ke Jakarta.
Setiba di rumah kembali, saya bilang ke istri saya bahwa uang untuk infak saya ambil semua.
”Lho, buat apa? Itu kan mau diinfakkan?” tanya dia.
”Saya berikan ke ibu, beliau minta sangu dan kebetulan isi dompetku cekak,” jawab saya singkat.
”Oh,” ucapnya pendek.
”Kita dahulukan membantu keluarga dulu ketimbang orang lain,” tegas saya.
Esoknya istri saya mengirimkan pesan singkat (SMS).
”Mas, alhamdulillah hari ini aku dapat uang insentif dari sekolah.” Demikian isi SMS tersebut. Saya tak menanyakan besarannya. Itu hak dia. Eh, ndilalah ada SMS lagi dari Bu Prast, istri saya.
”Sebagian diinfakkan ya, sebagian lagi ditabung.”
”Alhamdulillah, barakallah ya sweetheart,” balas saya. Dalam hati, saya gembira karena bisa membayar uang infak bulan itu.
Belum lepas dari kegembiraan tersebut, saya dapat kabar bahwa tulisan saya dimuat di salah satu koran milik Jawa Pos Group. Alhamdulillah, bakal dapat honor lagi nih, pikir saya.
Apakah Alloh mengganti uang infak yang saya berikan tadi kepada ibu? Entahlah. Yang jelas, saya yakin tak ada yang kebetulan di dunia ini.
Rabighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira...
(Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku. Kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka kepadaku sewaktu aku masih kecil)
Graha Pena, 13 Feb 2011
www.samuderaislam.blogspot.com
posted by ,
Oleh M. Arif As-Salman
Aku perhatikan sejak tadi temanku, Haris, tampak gelisah. Ada guratan cemas dan takut yang kubaca pada raut mukanya. Perjalanan yang akan kami tempuh masih lumayan cukup jauh. Bis yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali berhenti di halte untuk menurunkan penumpang dan menaikkan penumpang.
Aku masih tertegun dengan ucapan seorang anak muda dari Palestina yang ku ajak ngobrol sebelum ia turun. Kata-katanya laksana aliran listrik yang menyengat hatiku. Aku terpaku dan berdecak kagum. Usianya masih muda, tapi semangatnya begitu membara, pengelanaannya dalam hidup ini ku rasakan sudah cukup jauh.
"Ris, kamu kenapa?" sapaku pada Haris.
"Gak tahu Jir, kok aku tiba-tiba jadi gak enak ya," jawab Haris padaku.
"Gak enak kenapa? Kamu lagi kurang sehat atau ada yang terasa sakit?" selidik ku bertanya.
"Gak tahulah, mau bilang apa."
"Sebenarnya apa yang kamu rasakan?"
"Aku gak tenang aja, sejak gadis Mesir itu naik bis tadi."
"Emang kenapa dengan gadis itu?"
"Masak kamu gak perhatian, tuh pakaiannya buat darahku mendidih dan otakku meregang."
"Ooo," jawabku dengan senyum.
"Kok ooo sih, emangnya kamu gak merasakan apa-apa ya?"
"Saya gak ada rasa apa-apa, biasa saja, gak ada yang membuat saya tertarik untuk melihat?"
"Lho, kenapa?"
"Ya, apalagi yang mau dilihat, yang halal telah Allah berikan untuk direguk kenikmatannya. Sedangkan itu adalah sesuatu yang haram, melihat dan menyentuhnya dosa dan bawa celaka, dapat merusak hati dan pikiran."
"Tapi, kan ada juga orang yang sudah nikah masih gak kuat lihat cewek cakep."
"Yaaa... Mungkin."
"Bagaimana cara kamu menghadapi keadaan seperti itu, Jir?"
"Aku selalu tanamkan dalam hatiku, bahwa dimanapun aku berada Allah selalu melihatku, mengetahui kemana lirikan mataku, dan setiap bisikan hatiku. Aku malu bermaksiat pada Allah, sedangkan setiap hari aku memakan rizki yang Ia beri, sedangkan setiap hari aku diberi-Nya kesehatan. Aku takut jika saat bermaksiat pada Allah nyawaku dicabut. Apa yang akan ku jawab di akhirat kelak, saat amal-amalku dimintai pertanggung jawabannya?"
"Terus, selain itu, apa rahasia yang lain?"
"Aku selalu tanamkan dalam hatiku, bahwa hanya istriku yang tercantik di dunia ini, tidak ada wanita lain di muka bumi ini yang melebihi kecantikan istriku sesudah ibuku. Bagiku, selain istriku semuanya jelek! Sehingga dengan menanamkan keyakinan ini, aku tak terpaku dengan fatamorgana yang berkeliaran di sekitarku."
"Ya, bagiku wanita yang lain jelek semua!! Nah, dengan cara demikian, aku tak sedikitpun tertarik untuk melihat, memperhatikan dan melirik pada wanita lain, walau cantik sekalipun ia, walau ia pemenang Miss Universe sekalipun."
"Dan terakhir, bahwa menjaga pandangan mata dari yang haram lebih mudah dari pada saat mata itu telah melihat, karena saat itu hati akan merasakan derita dan kepedihan rindu yang tak tertahankan yang berbalut nafsu, yang sering membuat laki-laki kehilangan kelezatan beribadah."
"Itulah penjelasanku. Bagaimana menurutmu, kawan?"
"Ternyata pernihakan itu betul-betul mampu memelihara diri dari perbuatan dosa dan nista, ya?"
"Betul, tentunya harus didasari niat yang tulus dan benar, bukan semata pelampiasan syahwat belaka."
"Kalau kamu udah tahu, kapan menikahnya?" tanyaku pada Haris.
"Itulah akhi, sampai saat ini jodoh belum datang.."
"Hehe.. carilah jodoh itu!! Berusahalah, temukanlah dan banyaklah berdoa pada Allah. Jangan putus asa, jangan pesimis, berbesar hatilah dan yakinlah akan janji Allah. Kelak kamu juga akan mengatakan pada wanita yang Allah pilihkan untukmu, "Duhai bidadariku, hanya engkau tercantik di hatiku."
Menikahlah, agar hilang keluh hatimu, lenyap kesah jiwamu, dan agar redup juga gelora yang tak menentu itu, kawan!!
Salam,
marif_assalman@yahoo.com
